Pengertian Paradigma

Paradigma Berpikir

Paradigma adalah cara yang kita memandang alam sekitar. Memandang dalam arti, melihat dengan mata, memahami kemudian menafsirkan. Ketika kita dituntut untuk memunculkan suatu perubahan penting dalam hidup ini, maka yang harus dilakukan pertama kali adalah meneliti kembali Paradigma kita, kemudian memantapkan, memperbaharui ataupun mengubahnya kalau perlu. Sebab, jika paradigma yang kita gunakan salah, maka kita pun akan salah memandang sesuatu dan efeknya adalah salah dalam berprilaku dan berinteraksi dengan sesuatu itu.

Kita memang tidak berjalan di atas peta. Tetapi dengan peta kita menjadi yakin dalam melangkah dan bisa mencapai tujuan yang ingin dicapai. Tentu yang dibutuhkan adalah peta yang menunjukkan jalan yang benar, karena peta yang salah juga akan menyesatkankan perjalanan kita. Demikianlah gambaran sebuah paradigma. Memang yang bekerja adalah anggota tubuh, tetapi apabila semua pekerjaan kita dilatarbelakangi dengan paradigma berfikir positif, maka akan mendatangkan hasil yang positif juga. Kita tentu sering mendengar pepatah yang berbunyi, “You can if you think you can.” Atau, “Anda adalah sebagaimana yang anda fikirkan tentang diri anda”, dll. Sebuah kesuksesan akan dapat tercapai jika pertama kali yang dilakukan adalah berfikir positif. Jika belum berbuat sudah merasa tidak mampu, maka hasilnya adalah kalah sebelum berperang.

Ada sebuah cerita yang merupakan contoh paradigma berfikir positif. Seorang permpuan yang ditinggal mati oleh suaminya, dikunjungi tetangga-tatangganya. Setiap mereka menasehati si Ibu untuk tetap bersabar. Namun Ibu itu tidak sedikitpun menangis. Bahkan ia selalu tesenyum ceria. Para tetangganya menjadi keheranan. Akhirnya salah seorang dari mereka bertanya, “Mengapa Ibu tersenyum terus, apa tidak merasa sedih ditinggal suaminya? Seharusnya Ibu menangis, karena tidak ada lagi yang mencarikan Ibu rezeki!” Dengan tenang si Ibu menjawab, “Mâta al-akkâl, wa baqiya Ar-Razzâq.” (Telah mati si pemakan rezeki dan kekallah Sang Maha Pemberi rezeki). Ketika si ibu tadi berfikir bahwa segalanya sudah ditentukan Allah, maka ia tidak akan menyalahkan siapapun, ia tidak akan menyesal, bahakan ia akan selalu optimis bahwa tidak ada yang perlu dirisaukan dalam hidup ini jika dijalankan dengan baik dan sesuai perintah Yang segala ketentuan berada di tangan-Nya.

Maka, kita bisa, jika kita berpikir bisa dan berusaha, serta tidak bisa jika berpikir tidak bisa dan tidak mau berusaha. Namun kita tetap harus selalu bertawakkal kapada Allah, menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Karena ditangannyalah segala ketentuan hukum yang berlaku di alam semesta. Allaahumma laa takilnaa ilaa anfusinaa tharfata ‘ainin (Ya.. Allah, janganlah Engkai pasrahkan kami pada diri kami sendiri walau hanya sekejap)[]

http://edukasi.kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s